S3, Sistem Sesuai Selera

Mendapatkan Audio Sistem Sesuai Selera

S3, Sistem Sesuai Selera

Penulis Gatot

S3, Sistem Sesuai Selera
Dr. Dede Budiman SpPD,Mkes.

Audio Video Indonesia, Bagaimana sebuah sistem audio sudah layak disebut ideal? Parameternya memang banyak, tetapi ada satu intinya, yakni sistem itu harus bisa mengakomodir apa yang menjadi selera pemiliknya. Sistem ini harus bisa memuaskan rasa dahaga penikmatnya akan musik yang dia sukai. Itu yang utama, dan kami jadikan istilah singkatan baru, S3, yakni Sistem Sesuai Selera . Inilah yang kami jumpai di sistem milik Dr. Dede Budiman SpPD,Mkes.

Saat bertandang ke rumah Dede di sebuah kawasan perumahan di Bandung, lalu memasuki sebuah ruang yang dijadikan Dede sebagai ruang musik, banyak hal yang membuat kami takjub. Pertama, ruangan audio Dede berukuran kecil untuk ukuran sistem yang dimilikinya saat itu (yang tentu lebih mendambakan ruang lebih besar), tetapi saat kami duduk di sofa dan mendengarkan dua lagu, nuansanya rileks dan suara tidak forward atau menyerang. disini mulai tampak  secara kasat mata Sistem Sesuai Selera  berperan penting dalam adaptasi lingkungan sekitar.

Kedua, terbukti Sistem Sesuai Selera  tergambar  di  ruangan kerja Dede, sehingga tak heran bila didalamnya terdapat buku buku yang menunjang dia sebagai seorang dokter. Buku buku ini disusun dalam sebuah rak besar di sisi kiri ruangan. Ketakutan kami adalah, karena sifat buku yang menyerap suara, sangat potensial membuat suara lebih berat di sisi kanan. Tonal balance bisa terancam. Setelah memutar lagu, kesan ini tidak kami dapatkan.

Ketiga, Sistem Sesuai Selera  ini bisa mengakomodir aneka warna musik dari aneka genre album

S3, Sistem Sesuai Selera
S3, Sistem Sesuai Selera

musik yang dimiliki Dede. Seperti apa kata Dede dan juga bung Lukas Tan ari galeri Pro Audio, Bandung yang menemani kami ke rumah Dede, pehobi ini suka akan aneka warna musik. Mulai dari jazz, country pop bahkan rock. Banyak koleksi piringan hitam dan CD-nya didapatkannya dari galeri Pro Audio. Begitupun dengan perangkat, berasal dari galeri yang berada di jalan Surya Sumantri 105 (ruko) Bandung ini.
Dokter yang bertugas di rumah sakit Santosa, Bandung ini sebenarnya bukan pemain audio baru. Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama hingga kini di usianya yang sudah menginjak 43 tahun, dis sangat suka mendengarkan musik. Awalnya dia main audio memakai pemutar CD Azur dari Cambridge Audio, lalu Audion Sterling yang dipadukan dengan power Totem denan watt kecil. Ini karena ruangan audionya kal itu berukuran kecil. Lebih kecil dari ruangan yang sekarang. Tetapi didapatinya suaranya bisa memuaskannya.

Menurutnya, dalam bermain audio, idealnya orang bermain secara bertahap, dengan memperhatikan apa selera musiknya. Ini bermanfaat untuk mengakomodirnya dengan sistem tertentu yang lebih maksimal.
“Baik dari CD atau piringan hitam, saya ingin mencari suara yang lebih kaya dan hidup. CD itu bagus tetapi kan tetap ada digitalnya. Sedangkan PH, itu analog dan sifatnya manual, tetapi bisa lebih hidup dan kaya”katanya.
Warna musik jazz, pop, klasik khususnya klasik Mandarin, country dan rock, khususnya rock di tahun 80-an, sangat disukai Dede. Tetapi kini dia mengakui lebih sering mendengarkan musik jazz.
“Saya ingin sound system ini bisa mengakomodir semua jenis musik saya diatas”kata Dede.
Beberapa artis sempat dia sebutkan sebagai artis favoritnya. Di lagu klasik Mandarin dia suka Tjaicin(bahkan memiliki koleksi lengkapnya). Juga Jacky Cheung, Basso dan Teresa Teng. Di genre Country dia suka Randy Travis dan Don William. Rock? Dia suka yang bukan heavy metal, seperti Queen, Toto dan White Snake.
Dede merasa puas, sistemnya mampu mengakomodir, bahkan untuk musik rock sekalipun, dinamikanya terakomodir. Salah satu yang mengesankannya, suara yang keras, bisa direpro dengan halus oleh sistem high endnya ini.
Rumah ternyata dijadikannya sebagai satu satunya tempat baginya mendengarkan musik. Di tempatnya praktek, dia tidak gunakan musik sebagai background karena menurutnya tempat prakteknya ini mengandalkan suara. Musik diyakininya bisa mengganggu.

Mendengarkan Sistem

Di dalam ruang berbentuk kubus, berukuran sekitar 4 x 4 meter ini seperangkat sistem yang terdiri dari :
• Speaker Harbeth SHL-5
• Integrated amplifier Oto Phono Audio Note
• Power Manley Snapper
• Pemutar CD
• Turntable
• Kabel interkonek Harmonix Technology

Harbeth SHL 5 sebenarnya tidak terlalu istimewa dalam hal efisiensinya yang 88 dB. Tetapi speaker ini bisa maksimal kala digandengkan dengan power Manley Snapper yang kekuatannya 100 Watt mono. Dede memakai sepasang Snapper yang masing masing 100 Watt.
Dede ternyata lebih suka memutar lagu dari pemutar CD. Baru baru ini dia tengah mencoba mendengarkan melalui turntable. Datangnya mesin turntable memang sedikit menambahkesan ruangan kecil ini semakin tampak. Untuk itulah di kedepannya dia berencana membuat ruangan baru. Ruangan ini diyakininya memang kurang ideal.
Walaupun demikian, Dede senang mengoleksi album album dengan kualitas rekaman sekelas audiophile. Dede termasuk penyuka suara yang dinamik, juga lagu lagu rock yang tampil hidup (live). Dia menyukai lagu lagu rock karena suka akan nuansa liveness dari musik ini. Untuk itu dia pun mengganti beberapa komponen di sistemnya, seperti pemutar CD yang memakai merk Audio Note, karena dirasakannya pemutar ini lebih live. Begitupun dengan speaker, digantinya dengan Audio Note,
“Speaker ini merupakan good choice dan masuk kategori yang livenessnya bagus”kata bung Lukas.
Dua lagu mengalun, dimana lagu pertama dibawakan Dog Mcleoud. Duduk ditengah diatas sebuah sofa recliner empuk sungguh nikmat. Terlebih sistem sudah presisi . Ini tentu sebuah prestasi tersendiri karena speaker SHL-5 termasuk speaker yang tidak mudah untuk disetting, terlebih untuk ruangan sekecil ini.
Dengan Sistem Sesuai Selera  ini kami mendapati detil suara yang istimewa, juga propors suara high, mid dan low begitu seimbang. Ketakutan kami akan mendapati bass yang boomy karena dimensi ruangan yang paralel, ternyata tidak terjadi. Tentu saja perlu ada treatmen, dan rupanya adanya kabinet buku serta tirai dibelakang sistem serta elemen lain, secara tidak sengaja juga merupakan treatmen akustik. Dan ‘lucky Dede’, treatmen alami ini membawa kebaikan. Dede sendiri mengakui hal ini. Tetapi menurutnya, akustik bukanlah solusi utama, melainkan hanya membantu. Speaker Harberth ini lebih cenderung dinamik tetapi lincah, dan ternyata kemampuan liukannya dalam menampilkan lagu lagu mellow, terbilang istimewa. Karakternya bisa tebal, tegas, live.

Inilah gaya Dede dalam bermain audio. Menurut kami, sejauh pengenalan kami saat bertandang, Dede lebih kepada seorang music lover ketimbang audiophile. Dia menikmati tanpa perlu dipusingkan oleh staging,tonal balance, depth dan lain lain, walau kami dapati kriteria kriteria ini sudah didapatkan di ruangan ini. Dede lebih menikmati nuansa musik, bagaimana musikalnya sistem, menimbulkan semangat, menginspirasi, mengurangi kepenatan dan kelelahan setelah seharian penuh menangani pasien pasiennya (bahkan saat mendengarkan musik, kami dapati dia masih saja diganggu oleh dering telpon pasiennya).

“ Sayangnya saya suka macam-macam dan menuntut sistem yang handal untuk aneka musik. Lalu tentu saja perlu melihat selera dan budget. Tetapi kalau sudah jelas maunya apa, tinggal budget muncul. Jika saya, budgetnya ya kelas menengah sajalah”kata Dede, sambil menambahkan bagaimana dia perlu dengarkan dahulu sistem yang ingin dia pilih dengan seksama, tak mengapa kalaupun dia harus bolak balik Jakarta Bandung, untuk mendapatkan komparasi alat.

Penyesuaian dalam memperoleh suara sesuai selera tidak hanya berlaku dalam audio system tetapi dalam segala hal, sebagai contoh penyesuaian ruangan dalam menentukan ruang hiburan keluarga dan Permasalah akustik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *